Manusia kerap terjebak pada penilaian lahiriah. Kita sibuk mengagumi yang tampak indah, hingga abai memetik hikmah dari sesuatu yang dianggap remeh. Lalat, misalnya, sering kita anggap menjijikkan. Padahal, di balik keberadaannya tersimpan pelajaran mendalam tentang rendah hati dan ketulusan. Di tengah peradaban yang memuja kemewahan dan sterilitas, Tuhan justru menitipkan kebijaksanaan pada makhluk yang dipandang kotor.
Makrifat lalat berbicara tentang sikap menunduk. Dalam khazanah tasawuf, setiap ciptaan adalah tanda kehadiran Tuhan di alam raya. Tidak semua makhluk diciptakan untuk memukau mata. Lalat memang tak secantik kupu-kupu atau sekuat lebah, namun ia hadir dengan fungsi yang jelas. Ia mengurai sisa-sisa kehidupan dan berperan penting menjaga keseimbangan lingkungan. Tanpa kehadirannya, bangkai dan limbah organik akan menumpuk, mengganggu ekosistem dan membahayakan kehidupan (LIPI, Pusat Penelitian Biologi – Peran Serangga Saprofag dalam Ekosistem, 2020).
Lalat tidak pernah menuntut penghormatan. Ia dihalau, ditepis, bahkan dibunuh, namun tetap kembali menjalankan perannya. Dalam pemikiran makrifat Imam Al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin, Jilid III, Bab Makrifatullah), makhluk yang terus bekerja meski direndahkan sesungguhnya telah sampai pada derajat keikhlasan tertinggi: beramal tanpa pamrih dan menerima ketentuan tanpa keluh. Inilah hakikat makrifat—patuh pada kehendak Ilahi, bukan pada ambisi diri.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, lalat juga menyimpan keajaiban. Spesies Lucilia sericata, yang dikenal sebagai lalat hijau metalik, dimanfaatkan dalam dunia medis melalui terapi belatung atau Maggot Debridement Therapy (MDT). Larva lalat ini mampu membersihkan jaringan mati pada luka kronis tanpa merusak jaringan sehat, sebuah metode yang telah diakui secara internasional oleh WHO (World Health Organization, Guidelines for Maggot Therapy in Chronic Wounds, 2016). Makhluk yang dianggap menjijikkan justru menjadi perantara kesembuhan—sebuah paradoks yang sarat makna.
Dalam tradisi sufisme, lalat sering dijadikan simbol kesabaran dan kepasrahan. Syeikh Sya’roni Al-Khalwati dalam Syarh Al-Hikam menggambarkan lalat sebagai makhluk yang tidak memiliki kuasa menolak keadaan, namun tidak pernah berhenti memberi manfaat. Dalam keterbatasannya, tersimpan pelajaran tentang tawakal dan kesetiaan pada peran.
Ironisnya, banyak manusia mengejar kebersihan lahiriah, tetapi melupakan kesucian batin. Lalat justru mengingatkan bahwa sesuatu yang terlihat kotor belum tentu hina, dan yang tampak indah belum tentu mulia. Abu Laits As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin mengingatkan, “Barang siapa meremehkan makhluk Allah karena rupa atau kedudukannya, maka ia telah menutup pintu hikmah bagi dirinya.”
Barangkali, jauhnya manusia dari makrifat bukan karena dosa besar, melainkan karena keengganan belajar dari hal-hal kecil. Kita mendambakan kehormatan, padahal kemuliaan sejati tidak terletak pada posisi tinggi, melainkan pada ketulusan menjalankan amanah, sekecil apa pun itu.
Maka, ketika suatu saat seekor lalat singgah di dekatmu, jangan tergesa menghalaunya. Bisa jadi, itu adalah isyarat lembut dari Tuhan: makhluk yang kau pandang rendah saja tetap setia pada tugasnya, sementara engkau—yang dianugerahi akal dan derajat—sering lalai dari peranmu sendiri.
Sebagaimana ungkapan seorang bijak, “Saat engkau memahami makrifat lalat, di sanalah kesombongan berhenti tumbuh dalam hatimu.”

0 comments:
Post a Comment